Senin, 01 September 2008

Ketidak Berhasilan Pendidikan

  • Oleh : Aang Jalaludin

Pengalaman ini saya harap cukup saya yang mengalami. Dimana setiap orang berlibur menginginkan kepuasan berliburnya dengan bersenang senang, akan tetapi yang saya alami sebaliknya.

ketika saya berlibur bersama siswa-siswi mading ke sutu tempat yang bernama pemandian Ci Taman, baru beberapa detik menghirup udara di sana, seseorang mendekati saya. Dia menawari karcis yang jumlahnya tak seberapa. Kemudian saya bilang " nanti dulu bang kami kan rombongan biar nanti bayarnya sekalian "karna menurut saya lembaran karcis itu tidak begitu penting dan saya langsung kembalikan kepada orang itu entah kenapa orang itu enggan menerimanya. saya kira lembaran itu dia sudah tidak membutuhkan kembali. dengan santai selembar kertas itu terbang ke permukaan bumi. Pada saat itu pula wajah cerah saya berubah seketika dalam hati saya habislah sudah riwayat saya yang mana penduduk setempat terkenal dengan keserempakanya tak pandang bahwa mereka berada di pihak salah. kurang lebih sepuluh meter saya di seret oleh peuda itu, anehnya sedikitpun tak ada kaku dalam geraku. Aku sempat berfikir " ya Tuhan seandainya cara seperti ini jalan kematian saya, saya siap menerimanya" alunan ini pula yang membut saya tak ragu lagi. siswa-siswi bergetar melihat saya berada di tengah kerumunan orang yang haus kekerasan itu. Maklum mereka baru kelas I MTs panik dan gelisah tergambar pada wajah mereka, wajah-wajah semula cerah berubah seketika, di tambah keberanian orang itu membentak guru kami sambil menunjuk-nunjuk kemkua beliau. Karena hanya beliau pembimbing kami yang ikut pada liburan ini saya rasa beliau bukan pengecut hanya jumlah mereka terlalu banyak dan beliau anti kekerasan. Saya hanya menunggu keajaiban yang datang dari Tuhan atas keselamatan saya. Ternyata Tuhan masih memberi kesempatan kepada saya sehiga saya dapat kluar dari cengkraman mereka tanpa kekerasan. Ada sebuh ucapan yang membut saya penasaran dia berkat " seratus orang pun yang saya bawa dia siap menghadapinya sendiri " Padahal keberanian orang sana hanya pada saat mereka kumpul-kumpul, perbuatanya yang belum lupa dari ingatan saya ketika dia menyeret saya dengan di ikuti teman-temanya yang menunggu komando untuk menghajar saya.

Ya Tuhan untuk menghilangkan tragedi ini dari benak saya, apakah saya harus membalasnya dan apakah balasan nanti akan membuat saya puas? atau menunggu waktu untuk membalasnya.

Minggu, 31 Agustus 2008

Ciptakan Budaya Islam

Oleh : Aang Jalaludin

Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, santri pondok pesantren Annizhomiyyah mengadakan jalan santai dengan rute kurang lebih tiga km.
Hal ini patut menjadi sejarah di seluruh Dunia, karena seumur saya hidup di Dunia ini, baru kali ini saya ikut pawai dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan. Biarpun jumlah kami tidak begitu banyak, kami tetap semangat. Dangan tabuhan kentongan tetrbuat dari bambu, serta di barengi bacaan Sholawat Badhar yang serempak. Masarakat pun tertarik dengan aksi kami sehingga yang berada di dalam Rumah pun keluar Rumah untuk melihat kami. Karena jalan yang kami lalui cukup di padati kendaraan yang habis munggahan ( kegiatan yang menjadi budaya oleh sebagian Musalim yaitu makan bareng keluarga atau teman-teman) tidaqk sedikit diantara pengendara yang mengacungkan Jempol kepada kami. Karena kami berjalan terlalu sore sehingga kami kejebak magrib di perjalanan dan kami pulang pada saat hari sudah larut malam.
Saya berharap penyambutan Ramadhan dengan cara seperti ini agar menjadi kebudayaan umat Isalam karena muslim di indonesia terbalik. Coba kita lihat pada saat penyambutan tahun baru masehi hampir separuh Muslim Indonesia sibuk merancang acara.

Selasa, 26 Agustus 2008

MENCOBA SOSIALISASI

Pelajar Madrsah Aliah Anizhomiyyah sedang membuat perubahan dinding kelasnya. dengan cara bergotong royong di kelas II MA, diantara nama-namanya Jalaludin, Jamaludin, Sidik, Usep, Muhadi dan yang lainya. Kami ingin yang terbaik buat kami, termasuk lingkungan kami, yaitu tempat belajar kami. Sebenarnya, apa yang sekolah berikan sudah lebih dari cukup buat kami, deng fasilitas yang memadai dan lain sebagainya. Apalagi biyayanya sangat terjangkau, kalau gak salah sepruhnya dengan sekolah lain, yang ada di kabupaten Pandeglang.

Sabtu, 23 Agustus 2008

Biar tua tetap belajar

Oleh : Aang Jalaludin
Kegiatan pondok pesantren Annizhomiyyah selain kegiatan pengajian Santri, juga ada pengajian ibu-ibu. Setiap hari jumat setelah Sholat jumat ibu-ibu memenuhi majlis pondok pesantren Annizhomiyyah. ibu-ibu pengajian ini di pimpin oleh Hj.siti Hindun istri pengasuh pondok pesantren Annizhomiyyah, abah KH.Tb.A. Rafe'i Ali. Dengan serius ibu-ibu melantunkan Ayat-Ayat Allah serta serempak. Dari awal sampai akhir ibu-ibu dengan rapih mengikuti pengajian sampai selesai. ibu-ibu ini datang dari berbagai kampung, Desa dan Kecamatan. Pada pertengahan pengajian abah KH.Tb.A. Rafe'i Ali memberikan tausih kepada ibu-ibu dengan di akhiri pembacaan do'a.

Selasa, 19 Agustus 2008

Keceriaan Santri di karnafal


Oleh : Aang Jalaludin

Pada hari minggu tepat pada tanggal 17 Agustus 2008 Pondok pesantren Annizhomiyyah mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih di lapangan jendral Achmad Yani Labuan.Setelah selesai di daerah kaimi (Labuan) mengadakan karnaval, mengelilingi kota Labuan. Beragam kebolehan di pentaskan oleh para siswa dari setiap sekolah, juga tingkat umum juga ikut memeriahkanya termasuk Santeri Annizhomiyyah.dengan memakai kostum yang serba aneh dan lucu di pentaskan di sini, seperti banci,badut dan lain-lain di perton-tonkan.saat itu penonton memenuhi sepanjang jalan yang di lintasi oleh peserta.

Akan tetapi para santeri Annizhomiyyah sangat beda dengan yang lainya,kami merayakanya seakan akan kami berdemo di depan gedung DPR. Kami memakai kostum seadanya yang biasa kami pakai sehari-hari. Tidak seperti yang lain yang di hiasi dan mencoreng mukanya. Serbenarnya kami bukan tak pandai untuk membuat hal semacam itu, tetapi kami ingin menggambarkan keadaan di daerah kami (Pandeglang) dengan alat-alat yang kami bawa yaitu yang biasa kami pakai sehari-hari seperti alat memasak nasi, alat menggoreng dan alat membakar ikan terus kami membawa sepanduk yang bertuliskan diantaranya kami mengharapkan kembalinya kota Pandeglang menjadi kota santeri bukan kota KORUPSI yang mana pada saat ini pemerintah pandeglang di antaranya ada yang korupsi terus kami mengharapkan jangan mengajari kami kebohongaan, mengharapkan kepada pemerintah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyrakat (Give service better for society),jangan jadikan Islam sebagai kendaraan POLITIK, kami tidak ingin pemisahan kelas kami ingin pendidikan yang humanis dan mencerdaskan,Islam bukan warna hijau, Kami tidak butuh tunjangan 100.000 untuk pernikahan, kami tidak butuh uang kematian(We Need Your Service Better For Education,We Need Your Honesty,We Dont Need Your Money) dan "Arrosi walmurtasi fin'nar" yang artinya orang menyuap dan yang di suap masuk NERAKA.

Di pejalanan seorang santeri sebagai komando pasukan membacakan sepanduk, kemudian di ikuti oleh yang lainya dengan serempak, derngan sebutan "betul" melihat keadaan kami yang seadanya. Ternyata banyak masyrakat yang mendukung, apalagi ketika melihat tentengan kami, yaitu alat-alat masak yang bertahun-tahun tak pernah di cuci. Masarakat tertawa dengan berbahak-bahak, sampai ada yang bilang "terus semangat agar pemerintah pandeglang mendengar" keadaan berubah setelah kami di depan panggung yang di duduki oleh Camat kecamatan Labuan, yaitu Encep Suryadi. Kami behenti dengan melihatkan sepanduk kedepanya. Pada saat itlah Pak Agus KH bebicara di tengah kerumunan masyrakat dan Camat. Beliau betrkata "saudara-saudara sekalian sebenarnya kita belum merdeka, kita masih di jajah oleh Amerika,Jaepang dan bahkan kita dijajah oleh pemetrintah kita sendiri, kita tidak sadar kita telah di bohongi oleh mereka.... Pada saat itu Camat hanya diam kaku melihat aksi kami. Setelahitu kami bubar.

Minggu, 03 Agustus 2008

PONDOK PESANTREN

PONDOK PESANTREN AN-NIZHOMIYYAH

RUMAH BAGI SEMUA YANG BERBEDA

Pondok pesantren an-nizhomiyyah didirikan di kampung jaha desa suka maju,
Labuan, pada tanggal 1930 dikampung ini sudah erdiri sebuah pesantren, tapi nama pesantrn itu tidak jelas di ketahui. Hal ini dikarnakan Sebuah pesantren bagi sang kiai tidaklah terlalu penting. Pesantren itu sendiri dikelola oleh KH. Yusuf syanmaun dan dihuni kurang lebih 200 santri dari beberapa daerah di banten dan uar banten. Beberapa diantaranya berhasil menguasai ilmu agama, menjadi kiai dikampungnya masing-masing.
Sayangnyasetelah KH. yusuf syamaun wafat, aktivitas di pesantren tersebut
Berhenti. Satu persatu satrinya meninggalkan psantren, yang tesisa hanya
Kobong (kamar santri) yang beserakan. Sepeninggal KH. Yusuf syamaun,
Pesantren ini dteruskan dan dikelola oleh anaknya HJ. Siti masitoh dan
Menantunya KH. Asnawi sodiq. Tetapi mereka tidak bias mengulang kesuksesan
Seperti yang telah diraih oleh KH.yusuf syamaun, tidak ada santri yang menetap.
Pada 1963, KH. Tubagus rafe’i ali, menantu HJ.siti, melanjutkan pengelolaan
Pesantren. Ia membenahi dan meminpin peantren. Ia (KH.TB.rafe’I ali) pun memberi nama pesantren AN-NIZHOMIYYAH nama pesantren ini diadopsi
Sala satu madrasah di Baghdad, nijhamiyah (didirikan oleh wazir nizam al-mulk)
Di mana sala satu filsuf besar ISLAM al Ghazali pernah duduk di bangku madrasah nizhamiyah dan menjadi guru besar (1090 M)di madrasah itu.

Kamis, 17 Juli 2008

Tb Ace Hasan Syadzily, M.Si


Tb Ace Hasan Syadzily, M.Si. Lahir di Pandeglang, 19 September 1976. Dibesarkan dilingkungan pesantren di Pandeglang Banten. Ayah, KH. Tb. Rafei Ali dan ibu, Umi Hj. St Sutihat Ms (alm) menggembleng dengan didikan yang kental santri. Melanjutkan pendidikan menengah di pesantren Cipasung Tasikmalaya dan Pesatren Krapyak Yogyakarta. Melanjutkan perguruan tinggi di IAIN (skrg UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dengan mengambil studi Sastra Arab. Di bangku kuliah ini, saya ditempa dan dididik sebagai aktivis. pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fak. Adab tahun 1996-1997 dan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IAIN Jakarta pada tahun 1999-2000.

Terlibat aktif sebagai aktivis 1998. Di ekstra kampus aktif sebagai Ketua HMI bidang PTKP cabang Ciputat. Secara intelektual banyak bergulat di Forum Mahasiswa Ciputat (FORMACI), forum studi yang dibina oleh Saiful Mujani, Ihsan Ali Fauzidan lain-lain. Saya bersama Ray Rangkuti, Anick mendirikan Lingkar-Studi Aksi untuk Demokrasi Indonesia (LSADI). Kemudian melanjutkan studi pascasarjana di FISIP Universitas Indonesia pada jurusan antropologi. Lulus dari IAIN Jakarta, diberikan mandat oleh para pemikir dan aktivis sosial di Ciputat untuk memegang kendali lembaga riset dan penguatan masyarakat, INCIS (Indonesian Institute for Civil Society) sebagai sekretaris eksekutif (1999-2001), Direktur Eksekutif (2001-2006) dan Ketua Yayasan INCIS (2006- sekarang). Pernah mengikuti Youth Islamic Leader Program di Ohio University, USA, tahun 2004.

Dari tahun 2004 terlibat aktif di Partai GOLKAR sebagai staf khusus Ketua bidang hubungan luar negeri & Pertahanan Keamanan yang juga Ketua Korwil VI Jabar Banten DPP Partai GOLKAR, H. Agus Gumiwang Kartasasmita. Tahun 2006, paska pilkada provinsi Banten, Saya diangkat menjadi Pengurus DPP Partai GOLKAR bidang Keagamaan sekaligus Koordinator Wilayah Jabar Banten DPP Partai GOLKAR.

Selain itu mengajar di Fak. Tarbiyah dan Keguruan serta Fak. Dakwah dan komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta sebagai dosen tidak tetap sejak tahun 2002. Disamping itu, sesekali menulis dan mengedit beberapa buku. Buku yang telah diterbitkan, Arifin Ilham: Dai kota Penabur Kedamaian Jiwa (Hikmah-Kelompok Mizan), Jakarta 2004. Buku ini menyorot model urban sufisme dan model keberagamaan masyarakat kota. Bersama Burhanuddin mengedit hasil riset INCIS tentang "Demokrasi dan Civil Society: Partisipasi Sosial Politik Warga Jakarta". Kemudian mengedit juga buku "Keniscayaan Globalisasi dan Nasib Society".

Di sela-sela kesibukan, menyempatkan diri membina Perguruan Islam Annizhomiyyah yang mengelola lembaga pendidikan formal dari TK hingga perguruan tinggi dan Pondok Pesantren. Saya tinggal di Komplek Gria Jakarta Blok B 7/3 Pamulang Tangerang, bersama istri tercinta, Rita Fitria dan dua buah hati Cerah Unggun Nireya dan Pancar Cahaya Tajally..

Pondok Pesantren An Nizhomiyyah


Kampung Jaha Desa Sukamaju Labuan pada 1930. Pada 1930 di kampung ini sudah berdiri pesantren, tetapi nama pesantren itu tidak jelas diketahui. Barangkali pimpinan pesantren tidak begitu peduli dengan nama, dengan sebutan. Pesantren itu dikelola oleh KH. Yusuf Syamaun dan dihuni kurang lebih 200 santri dari beberapa daerah di Banten dan luar Banten. Beberapa di antaranya berhasil menguasai ilmu agama, menjadi kiyai di kampungnya masing-masing.

Setelah KH. Yusuf Syamaun wafat, tak ada lagi aktivitas di pesantren. Satu persatu santri pergi meninggalkan pesantren, yang tersisa hanya kobong (kamar santri) yang berserakan. Sepeninggal KH. Yusuf Syamaun, pesantren ini diteruskan dan dikelola oleh anaknya Hj. St Masitoh dan menantunya KH. Asnawi Sodiq.

Tetapi mereka tidak bisa mengulang kesuksesan seperti yang telah dibangun KH. Yusuf Syamaun, tidak ada santri yang menetap.

Pada 1963, KH. TB. Rafe’i Ali, menantu Hj. St. Masitoh, melanjutkan pengelolaan pesantren. Ia membenahi dan memimpin pesantren. Ia (KH.TB. Rafe’i Ali) pun memberi nama Pesantren Annizhomiyyah. Nama pesantren ini diadopsi dari salah satu madrasah di Baghdad, Nizhamiyah (didirikan oleh Wazir Nizam al-Mulk), di mana salah satu filsuf besar Islam Al Ghazali pernah duduk di bangku madrasah Nizhamiyyah dan menjadi guru besar (1090 M) di madrasah itu.

Pesantren Annizhomiyyah pada mulanya hanya mengembangkan dan mengkaji kitab kuning. Kitab nahwu (tata bahasa) dan kitab fiqh menjadi ciri khas dari pesantren ini. Lalu untuk memenuhi keinginan masyarakat pada pendidikan umum dan tuntutan perubahan, maka di pesantren ini didirikan madrasah, sekolah yang memadukan unsur agama dan umum. Pada tahun 1964 di pesantren ini didirikan Madrasah Ibtidaiyyah (saat ini siswanya berjumlah 120 orang).

Pada tahun 1965 didirikan Madrasah Tsanawiyah (saat ini siswanya berjumlah 344 orang). Pada tahun 1975 didirikan Madrasah Aliyah (saat ini siswanya berjumlah 207 orang). Pada tahun 2000 didirikan TK (saat ini jumlah siswanya 80 orang). Semuanya di bawah naungan Yayasan Syekh Yusuf Syamaun, yayasan yang disahkan/berdiri pada tahun 1989.


Hingga kini santri yang menetap di pesantren ini berjumlah 70 orang, 40 orang santri laki-laki dan 30 santri perempuan. Mayoritas berasal dari daerah Banten. Ada juga santri yang berasal dari luar Banten, seperti dari Jakarta, Sukabumi, Lampung, dst. Aktivitas pengajian santri diadakan pada sore hari (ba’da asar) dan pada malam hari (ba’da isya). Pada sore hari pengajian diadakan secara sorogan, sementara pada malam hari pengajian dipimpin langsung oleh pengasuh pesantren.

Pesantren ini berusaha terlibat dengan masyarakat. Pada setiap malam (kecuali Kamis malam), beberapa anggota masyakat mengikuti pengajian di pesantren (menjadi santri kalong). Pada Kamis malam, pengasuh pesantren mengadakan pengajian rutin untuk bapak-bapak, dan pada Jum’at sore diadakan pengajian untuk ibu-ibu di sekitar pesantren.

Pesantren ini pun terbuka untuk umum, bahkan untuk kalangan di luar Islam. Pada 15 November 2007, pesantren ini dikunjungi oleh 15 orang para calon pastur dari STF Driyarkara Jakarta. Mereka menjadi santri selama satu hari, berinteraksi dan berdialog dengan santri dan masyarakat. Lalu pada 3-6 Januari 2008 pesantren ini pun pernah mengadakan “Live in pemuda lintas iman” yang dihadiri 40 peserta dari beraneka macam agama.

Pelaksanaan Program ODEL

Program kesetaraan paket B diikuti 47 orang, Paket C 63 orang dan pengguna komputer 400 orang. Kegiatan diluar program kesetaraan antara lain mengadakan putar film dan diskusi dengan masyarakat sekitar. Film yang diputar adalah film yang mengandung unsur edukasi dan semangat untuk berjuang demi perubahan kearah yang lebih baik.