Minggu, 31 Agustus 2008
Ciptakan Budaya Islam
Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, santri pondok pesantren Annizhomiyyah mengadakan jalan santai dengan rute kurang lebih tiga km.
Hal ini patut menjadi sejarah di seluruh Dunia, karena seumur saya hidup di Dunia ini, baru kali ini saya ikut pawai dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan. Biarpun jumlah kami tidak begitu banyak, kami tetap semangat. Dangan tabuhan kentongan tetrbuat dari bambu, serta di barengi bacaan Sholawat Badhar yang serempak. Masarakat pun tertarik dengan aksi kami sehingga yang berada di dalam Rumah pun keluar Rumah untuk melihat kami. Karena jalan yang kami lalui cukup di padati kendaraan yang habis munggahan ( kegiatan yang menjadi budaya oleh sebagian Musalim yaitu makan bareng keluarga atau teman-teman) tidaqk sedikit diantara pengendara yang mengacungkan Jempol kepada kami. Karena kami berjalan terlalu sore sehingga kami kejebak magrib di perjalanan dan kami pulang pada saat hari sudah larut malam.
Saya berharap penyambutan Ramadhan dengan cara seperti ini agar menjadi kebudayaan umat Isalam karena muslim di indonesia terbalik. Coba kita lihat pada saat penyambutan tahun baru masehi hampir separuh Muslim Indonesia sibuk merancang acara.
Selasa, 26 Agustus 2008
MENCOBA SOSIALISASI
Sabtu, 23 Agustus 2008
Biar tua tetap belajar
Kegiatan pondok pesantren Annizhomiyyah selain kegiatan pengajian Santri, juga ada pengajian ibu-ibu. Setiap hari jumat setelah Sholat jumat ibu-ibu memenuhi majlis pondok pesantren Annizhomiyyah. ibu-ibu pengajian ini di pimpin oleh Hj.siti Hindun istri pengasuh pondok pesantren Annizhomiyyah, abah KH.Tb.A. Rafe'i Ali. Dengan serius ibu-ibu melantunkan Ayat-Ayat Allah serta serempak. Dari awal sampai akhir ibu-ibu dengan rapih mengikuti pengajian sampai selesai. ibu-ibu ini datang dari berbagai kampung, Desa dan Kecamatan. Pada pertengahan pengajian abah KH.Tb.A. Rafe'i Ali memberikan tausih kepada ibu-ibu dengan di akhiri pembacaan do'a.
Selasa, 19 Agustus 2008
Keceriaan Santri di karnafal
Pada hari minggu tepat pada tanggal 17 Agustus 2008 Pondok pesantren Annizhomiyyah mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih di lapangan jendral Achmad Yani Labuan.Setelah selesai di daerah kaimi (Labuan) mengadakan karnaval, mengelilingi kota Labuan. Beragam kebolehan di pentaskan oleh para siswa dari setiap sekolah, juga tingkat umum juga ikut memeriahkanya termasuk Santeri Annizhomiyyah.dengan memakai kostum yang serba aneh dan lucu di pentaskan di sini, seperti banci,badut dan lain-lain di perton-tonkan.saat itu penonton memenuhi sepanjang jalan yang di lintasi oleh peserta.
Akan tetapi para santeri Annizhomiyyah sangat beda dengan yang lainya,kami merayakanya seakan akan kami berdemo di depan gedung DPR. Kami memakai kostum seadanya yang biasa kami pakai sehari-hari. Tidak seperti yang lain yang di hiasi dan mencoreng mukanya. Serbenarnya kami bukan tak pandai untuk membuat hal semacam itu, tetapi kami ingin menggambarkan keadaan di daerah kami (Pandeglang) dengan alat-alat yang kami bawa yaitu yang biasa kami pakai sehari-hari seperti alat memasak nasi, alat menggoreng dan alat membakar ikan terus kami membawa sepanduk yang bertuliskan diantaranya kami mengharapkan kembalinya kota Pandeglang menjadi kota santeri bukan kota KORUPSI yang mana pada saat ini pemerintah pandeglang di antaranya ada yang korupsi terus kami mengharapkan jangan mengajari kami kebohongaan, mengharapkan kepada pemerintah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyrakat (Give service better for society),jangan jadikan Islam sebagai kendaraan POLITIK, kami tidak ingin pemisahan kelas kami ingin pendidikan yang humanis dan mencerdaskan,Islam bukan warna hijau, Kami tidak butuh tunjangan 100.000 untuk pernikahan, kami tidak butuh uang kematian(We Need Your Service Better For Education,We Need Your Honesty,We Dont Need Your Money) dan "Arrosi walmurtasi fin'nar" yang artinya orang menyuap dan yang di suap masuk NERAKA.
Di pejalanan seorang santeri sebagai komando pasukan membacakan sepanduk, kemudian di ikuti oleh yang lainya dengan serempak, derngan sebutan "betul" melihat keadaan kami yang seadanya. Ternyata banyak masyrakat yang mendukung, apalagi ketika melihat tentengan kami, yaitu alat-alat masak yang bertahun-tahun tak pernah di cuci. Masarakat tertawa dengan berbahak-bahak, sampai ada yang bilang "terus semangat agar pemerintah pandeglang mendengar" keadaan berubah setelah kami di depan panggung yang di duduki oleh Camat kecamatan Labuan, yaitu Encep Suryadi. Kami behenti dengan melihatkan sepanduk kedepanya. Pada saat itlah Pak Agus KH bebicara di tengah kerumunan masyrakat dan Camat. Beliau betrkata "saudara-saudara sekalian sebenarnya kita belum merdeka, kita masih di jajah oleh Amerika,Jaepang dan bahkan kita dijajah oleh pemetrintah kita sendiri, kita tidak sadar kita telah di bohongi oleh mereka.... Pada saat itu Camat hanya diam kaku melihat aksi kami. Setelahitu kami bubar.
Minggu, 03 Agustus 2008
PONDOK PESANTREN
PONDOK PESANTREN AN-NIZHOMIYYAH
Pondok pesantren an-nizhomiyyah didirikan di kampung jaha desa suka maju,
Labuan, pada tanggal 1930 dikampung ini sudah erdiri sebuah pesantren, tapi nama pesantrn itu tidak jelas di ketahui. Hal ini dikarnakan Sebuah pesantren bagi sang kiai tidaklah terlalu penting. Pesantren itu sendiri dikelola oleh KH. Yusuf syanmaun dan dihuni kurang lebih 200 santri dari
Sayangnyasetelah KH. yusuf syamaun wafat, aktivitas di pesantren tersebut
Berhenti. Satu persatu satrinya meninggalkan psantren, yang tesisa hanya
Kobong (kamar santri) yang beserakan. Sepeninggal KH. Yusuf syamaun,
Pesantren ini dteruskan dan dikelola oleh anaknya HJ. Siti masitoh dan
Menantunya KH. Asnawi sodiq. Tetapi mereka tidak bias mengulang kesuksesan
Seperti yang telah diraih oleh KH.yusuf syamaun, tidak ada santri yang menetap.
Pada 1963, KH. Tubagus rafe’i ali, menantu HJ.siti, melanjutkan pengelolaan
Pesantren. Ia membenahi dan meminpin peantren. Ia (KH.TB.rafe’I ali) pun memberi nama pesantren AN-NIZHOMIYYAH nama pesantren ini diadopsi
Sala satu madrasah di Baghdad, nijhamiyah (didirikan oleh wazir nizam al-mulk)
Di mana sala satu filsuf besar ISLAM al Ghazali pernah duduk di bangku madrasah nizhamiyah dan menjadi guru besar (1090 M)di madrasah itu.