Selasa, 19 Agustus 2008

Keceriaan Santri di karnafal


Oleh : Aang Jalaludin

Pada hari minggu tepat pada tanggal 17 Agustus 2008 Pondok pesantren Annizhomiyyah mengikuti upacara pengibaran bendera merah putih di lapangan jendral Achmad Yani Labuan.Setelah selesai di daerah kaimi (Labuan) mengadakan karnaval, mengelilingi kota Labuan. Beragam kebolehan di pentaskan oleh para siswa dari setiap sekolah, juga tingkat umum juga ikut memeriahkanya termasuk Santeri Annizhomiyyah.dengan memakai kostum yang serba aneh dan lucu di pentaskan di sini, seperti banci,badut dan lain-lain di perton-tonkan.saat itu penonton memenuhi sepanjang jalan yang di lintasi oleh peserta.

Akan tetapi para santeri Annizhomiyyah sangat beda dengan yang lainya,kami merayakanya seakan akan kami berdemo di depan gedung DPR. Kami memakai kostum seadanya yang biasa kami pakai sehari-hari. Tidak seperti yang lain yang di hiasi dan mencoreng mukanya. Serbenarnya kami bukan tak pandai untuk membuat hal semacam itu, tetapi kami ingin menggambarkan keadaan di daerah kami (Pandeglang) dengan alat-alat yang kami bawa yaitu yang biasa kami pakai sehari-hari seperti alat memasak nasi, alat menggoreng dan alat membakar ikan terus kami membawa sepanduk yang bertuliskan diantaranya kami mengharapkan kembalinya kota Pandeglang menjadi kota santeri bukan kota KORUPSI yang mana pada saat ini pemerintah pandeglang di antaranya ada yang korupsi terus kami mengharapkan jangan mengajari kami kebohongaan, mengharapkan kepada pemerintah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyrakat (Give service better for society),jangan jadikan Islam sebagai kendaraan POLITIK, kami tidak ingin pemisahan kelas kami ingin pendidikan yang humanis dan mencerdaskan,Islam bukan warna hijau, Kami tidak butuh tunjangan 100.000 untuk pernikahan, kami tidak butuh uang kematian(We Need Your Service Better For Education,We Need Your Honesty,We Dont Need Your Money) dan "Arrosi walmurtasi fin'nar" yang artinya orang menyuap dan yang di suap masuk NERAKA.

Di pejalanan seorang santeri sebagai komando pasukan membacakan sepanduk, kemudian di ikuti oleh yang lainya dengan serempak, derngan sebutan "betul" melihat keadaan kami yang seadanya. Ternyata banyak masyrakat yang mendukung, apalagi ketika melihat tentengan kami, yaitu alat-alat masak yang bertahun-tahun tak pernah di cuci. Masarakat tertawa dengan berbahak-bahak, sampai ada yang bilang "terus semangat agar pemerintah pandeglang mendengar" keadaan berubah setelah kami di depan panggung yang di duduki oleh Camat kecamatan Labuan, yaitu Encep Suryadi. Kami behenti dengan melihatkan sepanduk kedepanya. Pada saat itlah Pak Agus KH bebicara di tengah kerumunan masyrakat dan Camat. Beliau betrkata "saudara-saudara sekalian sebenarnya kita belum merdeka, kita masih di jajah oleh Amerika,Jaepang dan bahkan kita dijajah oleh pemetrintah kita sendiri, kita tidak sadar kita telah di bohongi oleh mereka.... Pada saat itu Camat hanya diam kaku melihat aksi kami. Setelahitu kami bubar.