- Oleh : Aang Jalaludin
Pengalaman ini saya harap cukup saya yang mengalami. Dimana setiap orang berlibur menginginkan kepuasan berliburnya dengan bersenang senang, akan tetapi yang saya alami sebaliknya.
ketika saya berlibur bersama siswa-siswi mading ke sutu tempat yang bernama pemandian Ci Taman, baru beberapa detik menghirup udara di sana, seseorang mendekati saya. Dia menawari karcis yang jumlahnya tak seberapa. Kemudian saya bilang " nanti dulu bang kami kan rombongan biar nanti bayarnya sekalian "karna menurut saya lembaran karcis itu tidak begitu penting dan saya langsung kembalikan kepada orang itu entah kenapa orang itu enggan menerimanya. saya kira lembaran itu dia sudah tidak membutuhkan kembali. dengan santai selembar kertas itu terbang ke permukaan bumi. Pada saat itu pula wajah cerah saya berubah seketika dalam hati saya habislah sudah riwayat saya yang mana penduduk setempat terkenal dengan keserempakanya tak pandang bahwa mereka berada di pihak salah. kurang lebih sepuluh meter saya di seret oleh peuda itu, anehnya sedikitpun tak ada kaku dalam geraku. Aku sempat berfikir " ya Tuhan seandainya cara seperti ini jalan kematian saya, saya siap menerimanya" alunan ini pula yang membut saya tak ragu lagi. siswa-siswi bergetar melihat saya berada di tengah kerumunan orang yang haus kekerasan itu. Maklum mereka baru kelas I MTs panik dan gelisah tergambar pada wajah mereka, wajah-wajah semula cerah berubah seketika, di tambah keberanian orang itu membentak guru kami sambil menunjuk-nunjuk kemkua beliau. Karena hanya beliau pembimbing kami yang ikut pada liburan ini saya rasa beliau bukan pengecut hanya jumlah mereka terlalu banyak dan beliau anti kekerasan. Saya hanya menunggu keajaiban yang datang dari Tuhan atas keselamatan saya. Ternyata Tuhan masih memberi kesempatan kepada saya sehiga saya dapat kluar dari cengkraman mereka tanpa kekerasan. Ada sebuh ucapan yang membut saya penasaran dia berkat " seratus orang pun yang saya bawa dia siap menghadapinya sendiri " Padahal keberanian orang sana hanya pada saat mereka kumpul-kumpul, perbuatanya yang belum lupa dari ingatan saya ketika dia menyeret saya dengan di ikuti teman-temanya yang menunggu komando untuk menghajar saya.
Ya Tuhan untuk menghilangkan tragedi ini dari benak saya, apakah saya harus membalasnya dan apakah balasan nanti akan membuat saya puas? atau menunggu waktu untuk membalasnya.